Senin, 06 September 2021

APA MAKNA AYAT “WA AMMA BINI’MATI ROBBIKA FAHADDITS”?

    


 

Jika engkau dalam kondisi miskin, tidak punya uang, kelaparan, dan tidak ada orang yang mengetahui penderitaanmu kemudian ada manusia yang bertanya kabar kepadamu, kemudian engkau menjawab,

“Alhamdulillah, aku berada dalam keadaan sehat wal afiat. Nikmat Allah luar biasa banyak diberikan oleh-Nya padaku pada hari ini. Aku bangun tidur dalam keadaan sehat, tidak sakit. penglihatanku normal, pendengaranku normal dan akalku juga normal, tidak gila. Aku bangun juga dalam keadaan aman, tidak ketakutan seperti orang-orang yang berada di negeri konflik. Subhanallah, Masyaallah, Lailahaillallah, Allahuakbar. Alangkah banyaknya nikmat Allah yang diberikan kepadaku”


Nah, jawabanmu seperti itulah yang dinamakan “tahadduts bin-ni’mah”, yakni menceritakan kebaikan-kebaikan Allah dalam rangka bersyukur untuk melaksanakan perintah Allah dalam ayat ini,

{وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ} [الضحى: 11]

“Adapun nikmat tuhanmu, maka kabarkanlah” (Adh-Dhuha; 11)

Engkau memuji-Nya dan menampakkan kebaikan-Nya di saat hawa nafsumu cenderung mengeluh dan meremehkan nikmat-Nya.

Engkau menyebut-nyebut kebaikan-Nya di saat syetan membisikimu untuk mengeluh dan meratapi takdir.

Engkau menyebut-nyebut anugerah dan pemberian-Nya di saat manusia jahil banyak yang memprovokasi agar tidak terima dengan segala kesempitan hidup dan penderitaan.

Inilah makna “tahadduts bin-ni’mah” yang sejalan dengan banyak nash yang lain.

Jangan sampai ayat ini dijadikan kedok dan topeng untuk maksud pamer, riya’, “sum’ah” dan “fakhr”, yakni menampakkan kelebihan dunia maupun diennya di hadapan manusia demi menampakkan keunggulan dirinya dibandingkan hamba Allah yang lain.

Misalnya mengatakan,

“Alhamdulillah, ini bukan pamer ya, bukan riya. Tidak sombong saya. Hanya sekedar ‘tahadduts bin ni’mah’. Anak saya si fulan itu lulus doktoral dari universitas Cambridge dan sekarang bekerja di Amerika dengan gaji perbulan sekitar 500 juta.”

“ Alhamdulillah.. Anak sudah jadi dokter spesialis jantung. Setiap hari pasiennya sampai ngantri-ngantri. Maklumlah, anak saya kan memang pintar. Cekatan nangani pasien. Makanya banyak yang suka berobat ke dia. Pemasukannya per bulan sampai ratusan juta loh. Dua hari lagi, mobil barunya bakalan diantar sama dealer. Ya syukurlah, masih muda tapi sudah bisa beli mobil. Belum nikah tapi sudah punya rumah sendiri.. Sudah bisa membahagiakan saya sebagai ibunya. Gelang yang saya pakai ini dibelikan sama dia. Emas murni lagi. Makanya bagus banget kan.. Kelihatan berkilau..”

“Bu, tolong tamu kita dibuatkan minuman ya. Tapi pakailah gelas yang kita beli dari haji yang ketiga”

Sungguh, ini adalah perilaku mungkar dan batil karena jelas melanggar ayat Allah yang berbunyi,

{ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ} [الحديد: 23]

“Allah tidak suka setiap orang yang sombong melagak lagi gemar membanggakan diri” (Al-Hadid; 23)

“Tahadduts bin ni’mah” itu jika penerapannya benar, maka “ending”nya hanya Allah-lah yang “besar”, yang “unggul”, yang “hebat”, dan “dikagumi”. Tidak pernah buruk sangka kepada Allah, dan selalu menghargai nikmat Allah sekecil apapun. Adapun pamer, riya, “sum’ah” dan “fakhr”, maka yang berusaha dihebatkan dan di”wow”kan itu kita sendiri. Kalau ini yang terjadi, maka jelaslah kita telah terjatuh dalam kemungkaran, kesombongan dan kemaksiatan.

“Tahadduts bin ni’mah” itu tanda bersyukur, memuji atas kebaikan-Nya dan salah satu cara berterima kasih kepada-Nya seperti saat kita menghargai kebaikan orang dengan mengucapkan terima kasih kepadanya.

***
Penjelasan di atas adalah penjelasan yang mengasumsikan bahwa “ni’mah” yang disebutkan Allah dalam surah Ad-Dhuha di atas bersifat umum mencakup semua “ni’mah”.

Adapun jika “ni’mah” di sana dipahami bersifat khusus, seperti penafsiran sebagian mufassirin yang memahaminya sebagai nikmat yang diberikan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم seperti nikmat Nubuwwah, Al-Qur’an, “huda”, “jabrul yatim”, “ighna’” dan amal salih maka makna “tahadduts bin ni’mah” lebih jelas lagi, yakni beramal saleh menyebarkan dien atau mengajak orang berbuat kebaikan dan tidak mungkin dimaknai bolehnya pamer atas nama syukur.

Mengabarkan nikmat Al-Qur’an misalnya, bermakna melaksanakan kewajiban tabligh wahyu Allah agar menjadi pelita umat manusia. Mengabarkan nikmat nubuwwah bermakna mengajak manusia agar beriman kepada beliau sebagai utusan Allah agar ditaati. Mengabarkan nikmat huda bermakna berdakwah menyebarkan petunjuk Allah untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan.

Jadi mulai hari ini, HENTIKAN KEBIASAAN SUKA PAMER dengan alasan “tahadduts bin’ni’mah”

Karena bukan seperti itu makna ayat ini.

Wallahua’lam.

Sabtu, 05 September 2020

RABU WEKASAN, ASAL-USUL DAN HUKUMNYA DALAM ISLAM



Dalam kalender Hijriyah dan jawa, hari ini adalah Rabu terakhir di bulan Safar. Tidak sedikit masyarakat yang malakukan hal-hal yang tidak biasa sebagaimana hari-hari lainnya. Mulai dari bersedekah, sholat sunnah, makan-makan, hingga minum air rendaman kertas yang ditulis khusus dengan huruf Arab (jimat). Semua dilakukan karena berharap perlindungan dari Allah dan diselamatkan dari malapetaka. 

.

Asal Usul Rabu Wekasan

Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dll.

Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) shalat tolak bala’; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Dalam kitab-kitab tersebut disebutkan bahwa salah seorang Waliyullah yang telah mencapai maqam kasyaf (kedudukan tinggi dan sulit dimengerti orang lain) mengatakan bahwa dalam setiap tahun pada Rabu terakhir Bulan Shafar, Allah Swt menurunkan 320.000 (tiga ratus dua puluh ribu) macam bala’ dalam satu malam. Oleh karena itu, beliau menyarankan Umat Islam untuk shalat dan berdoa memohon agar dihindarkan dari bala’ tsb. Tata-caranya adalah shalat 4 Rakaat. Setiap rakaat membaca surat al Fatihah dan Surat Al-Kautsar 17 kali, Al-Ikhlas 5 kali, Al-Falaq dan An-Nas 1 kali. Kemudian setelah salam membaca doa khusus yang dibaca sebanyak 3 kali. Waktunya dilakukan pada pagi hari (waktu Dhuha).

Pandangan Islam Tentang Rabu Wekasan

Untuk menyikapi masalah ini, kita perlu meninjau dari berbagai sudut pandang.


Pertama, rekomendasi sebagian ulama sufi (waliyullah) tersebut didasari pada ilham. Ilham adalah bisikan hati yang datangnya dari Allah (semacam “inspirasi” bagi masyarakat umum). Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqh, ilham tidak dapat menjadi dasar hukum. Ilham tidak bisa melahirkan hukum wajib, sunnah, makruh, mubah, atau haram.

Kedua, ilham yang diterima para ulama tersebut tidak dalam rangka menghukumi melainkan hanya informasi dari “alam ghaib”. Jadi, anjuran beliau-beliau tidak mengikat karena tidak berkaitan dengan hukum Syariat.


Ketiga, ilham yang diterima seorang wali tidak boleh diamalkan oleh orang lain (apalagi orang awam) sebelum dicocokkan dengan al-Qur’an dan Hadits. Jika sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, maka ilham tersebut dapat dipastikan kebenarannya. Jika bertentangan, maka ilham tersebut harus ditinggalkan.

Memang ada hadits dla’if yang menerangkan tentang Rabu terakhir di Bulan Shafar, yaitu:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: آخِرُ أَرْبِعَاءَ فِي الشَّهْرِ يَوْمُ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ. رواه وكيع في الغرر، وابن مردويه في التفسير، والخطيب البغدادي..

“Dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda: “Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari terjadinya naas yang terus-menerus.” HR. Waki’ dalam al-Ghurar, Ibn Mardawaih dalam at-Tafsir, dan al-Khathib al-Baghdadi. (dikutip dari Al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami’ al-Shaghir, juz 1, hal. 4, dan al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari, al-Mudawi li-‘Ilal al-Jami’ al-Shaghir wa Syarhai al-Munawi, juz 1, hal. 23).

Selain dla’if, hadits ini juga tidak berkaitan dengan hukum (wajib, halal, haram, dll), melainkan hanya bersifat peringatan (at-targhib wat-tarhib).

Hukum Meyakini Rabu Wekasan

Hukum meyakini datangnya malapetaka di akhir Bulan Shafar, sudah dijelaskan oleh hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim:


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم.

“Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadits ini merupakan respon Nabi Saw terhadap tradisi yang brekembang di masa Jahiliyah. Ibnu Rajab menulis: “Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Shafar. Maka Nabi SAW membatalkan hal tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya. Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Shafar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu. 

Meyakini datangnya sial pada bulan Shafar termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang.” (Lathaif al-Ma’arif, hal. 148).

Hadis ini secara implisit juga menegaskan bahwa Bulan Shafar sama seperti bulan-bulan lainnya. Bulan tidak memiliki kehendak sendiri. Ia berjalan sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Muktamar NU ke-3 juga pernah menjawab tentang hukum berkeyakinan terhadap hari naas, misalnya hari ketiga atau hari keempat pada tiap-tiap bulan. Para Muktamirin mengutip pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatawa al-Haditsiyah sbb: “Barangsiapa bertanya tentang hari sial dan sebagainya untuk diikuti, bukan untuk ditinggalkan dan memilih apa yang harus dikerjakan serta mengetahui keburukannya, semua itu merupakan perilaku orang Yahudi dan bukan petunjuk orang Islam yang bertawakal kepada Sang Maha Pencipta. Apa yang dikutip tentang hari-hari naas dari sahabat Ali kw. adalah batil dan dusta serta tidak ada dasarnya sama sekali, maka berhati-hatilah dari semua itu” (Ahkamul Fuqaha’, 2010: 54).


Hukum Sholat Tolak Bala di Rabu Wekasan

Shalat Rebo Wekasan (sebagaimana anjuran sebagian ulama di atas), jika niatnya adalah shalat Rebo Wekasan secara khusus, maka hukumnya tidak boleh, karena Syariat Islam tidak pernah mengenal shalat bernama “Rebo Wekasan”. Tapi jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat hajat, maka hukumnya boleh-boleh saja. Shalat sunnah mutlaq adalah shalat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya tidak terbatas.


Shalat hajat adalah shalat yang dilaksanakan saat kita memiliki keinginan (hajat) tertentu, termasuk hajat li daf’il makhuf (menolak hal-hal yang dikhawatirkan).

Syeikh Abdul Hamid Muhammad Ali Qudus (imam masjidil haram) dalam kitab Kanzun Najah Was Surur halaman 33 menulis: “Syeikh Zainuddin murid Imam Ibnu Hajar Al-Makki berkata dalam kitab “Irsyadul Ibad”, demikian juga para ulama madzhab lain, mengatakan: Termasuk bid’ah tercela yang pelakunya dianggap berdosa dan penguasa wajib melarang pelakunya, yaitu Shalat Ragha’ib 12 rakaat yang dilaksanakan antara Maghrib dan Isya’ pada malam Jum’at pertama bulan Rajab…….. Kami (Syeikh Abdul Hamid) berpendapat : Sama dengan shalat tersebut (termasuk bid’ah tercela) yaitu Shalat Bulan Shafar. Seseorang yang akan shalat pada salah satu waktu tersebut, berniatlah melakukan shalat sunnat mutlaq secara sendiri-sendiri tanpa ada ketentuan bilangan, yakni tidak terkait dengan waktu, sebab, atau hitungan rakaat.”


Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga menegaskan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan hukumnya haram, kecuali jika diniati shalat sunnah muthlaqah atau niat shalat hajat. Kemudian Muktamar NU ke-25 di Surabaya (Tanggal 20-25 Desember 1971 M) juga melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, kecuali diniati shalat mutlaq. (Referensi: Tuhfah al-Muhtaj Juz VII, Hal 317).

Hukum Berdo’a

Berdoa untuk menolak-balak (malapetaka) pada hari Rabu Wekasan hukumnya boleh, tapi harus diniati berdoa memohon perlindungan dari malapetaka secara umum (tidak hanya malapetaka Rabu Wekasan saja). Al-Hafidz Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan: “Meneliti sebab-sebab bencana seperti melihat perbintangan dan semacamnya merupakan thiyarah yang terlarang. Karena orang-orang yang meneliti biasanya tidak menyibukkan diri dengan amal-amal baik sebagai penolak balak, melainkan justru memerintahkan agar tidak keluar rumah dan tidak bekerja. Padahal itu jelas tidak mencegah terjadinya keputusan dan ketentuan Allah. Ada lagi yang menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat, padahal itu dapat mendorong terjadinya malapetaka. Syari’at mengajarkan agar (kita) tidak perlu meneliti melainkan menyibukkan diri dengan amal-amal yang dapat menolak balak, seperti berdoa, berzikir, bersedekah, dan bertawakal kepada Allah Swt serta beriman pada qadla’ dan qadar-Nya.” (Ibn Rajab, Lathaif al-Ma’arif, hal. 143).


Hukum Menyebarkan Rabu Wekasan

Hadratus Syeikh KH. M. HasyimAsy’ari pernah menjawab pertanyaan tentang Rebo Wekasan dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak ada dasarnya dalam Islam (ghairu masyru’). Umat Islam juga dilarang menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya. Berikut naskah lengkap dari beliau:


بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين. لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال: ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).

Kesimpulan

Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi merupakan tradisi yang positif karena (1) menganjurkan shalat dan doa; (2) menganjurkan banyak bersedekah; (3) menghormati para wali yang mukasyafah (QS. Yunus : 62). Karena itu, hukum ibadahnya sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.


Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat dan tidak perlu mengajak siapapun. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu mencela atau mencaci-maki.

Mengenai indikasi adanya kesialan pada akhir bulan Shafar, seperti peristiwa angin topan yang memusnahkan Kaum ‘Aad (QS. Al-Qamar: 18-20), maka itu hanya satu peristiwa saja dan tidak terjadi terus-menerus. Karena banyak peristiwa baik yang juga terjadi pada Rabu terakhir Bulan Shafar, seperti penemuan air Zamzam di Masjidil Haram, penemuan sumber air oleh Sunan Giri di Gresik, dll.

Kemudian, betapa banyak orang yang selamat (tidak tertimpa musibah) pada Hari Rabu terakhir bulan Shafar, meskipun mereka tidak shalat Rebo Wekasan. Sebaliknya, betapa banyak musibah yang justru terjadi pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu, dll (selain Rabu Wekasan) dan juga pada bulan-bulan selain Bulan Shafar. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya musibah atau malapetaka adalah urusan Allah, yang tentu saja berkorelasi dengan sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

 Intinya, sebuah hari bernama “Rebo Wekasan” tidak akan mampu membuat bencana apapun tanpa seizin Allah Swt.

 Wallahu a’lam.


(Dinuqil dari hasil Bahtsul Masail Tebuireng Jombang, tanggal 14 Desember 2014)

Kamis, 14 Mei 2020

Menyikapi dan Menghikmahi Pandemi Corona secara islami





Covid-19

Dikutip dari aladokter.com

Virus Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Virus Corona,  bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian.


Virus ini di temukan pertama kali di wuhan, China pada akhir tahun 2019,dan dengan cepat menyebar ke hampir seluruh negara termasuk Indonesia dalam beberapa bulan berikutnya.

Pada saat tulisan ini di buat, di Indonesia sudah terdapat 16.006 kasus positif, 3.518 sembuh, dan 1.043 meninggal. Angka tersebut bisa saja berubah, baik naik ataupun turun, mengingat, aktivitas sosial dan imunitas tubuh setiap orang adalah faktor yang sangat mempengaruhi penyebaran virus ini.

Pandemi ini sangat mempengaruhi banyak sektor,mulai pemerintahan, ekonomi, sosial,psikologis, maupun spiritual.

Misal saja secara sosial, adanya virus ini berdampak pada aktivitas sehari-hari , mulai lingkup global, hingga lingkup lingkungan masyarakat. Hampir Semua negara membatasi, bahkan menutup semua lalu lintas transportasi antar negara, termasuk Indonesia dan Arab saudi. 

Hampir semua negara termasuk Indonesia memberlakukan kebijakan  lockdown, yang artinya membatasi aktivitas sehari-hari seluruh penduduknya sebagai upaya meminimalisir penyebaran virus ini. 
Bahkan sebagai umat islam, hal tersebut juga berdampak pada aktivitas ibadah kita di masjid, ada beberapa bagian Daerah di Indonesia yang mengambil kebijakan menutup/membatasi aktivitas masjid, terutama di bulan suci ramadhan ini. Karena, masjid juga  potensial  menjadi tempat penyebaran virus ini.

Apapun yang terjadi, marilah kita senantiasa dan senantiasa selalu mengingat Allah, selalu bersyukur, memohon rohmat dan hidayah dariNya. Karena, tiada hal sekecil apapun yang datang bukan dari Nya. Serta tiada hal sekecil apapun yang diciptakanNya melainkan ada hikmah di baliknya. 


Ditengah hingar bingar pandemi iniMari kita tata hati, dan jernihkan fikiran,coba sedikit kita gali,  pasti ada sesuatu di balik semua ini. Kita di bekali akal tiada lain adalah untuk memahami kebesaranNya. Sebagaimana Firman Nya:


إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَءَايٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,"

(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 190)


Jika kita berfikir, sangat banyak hikmah yang dapat kita ambil dari pandemi ini, misal saja di keseharian, kita jadi lebih tahu mengenai pentingnya berikhtiar menjaga kesehatan, tentu supaya kita meminimalisir potensi terjangkit penyakit, misal saja menjaga kebersihan,bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati!.

Hikmah lain yang dapat kita ambil adalah dari dunia sains, ada kabar bahwa lapisan ozon bumi kita sedang membaik, ini adalah  karena adanya kebijakan lockdown yang mengurangi aktifitas manusia, sehingga tingkat polusi menjadi rendah, hal tersebut di buktikan oleh Nasa dalam sebuah unggahan fotonya, di situ terlihat tingkat polusi di china yang kian berkurang sejak 10 Februari 2020. Seolah, Allah sedang memberikan waktu sejenak kepada bumi untuk memulihkan diri dari dampak-dampak pencemaran yang kita lakukan bertahun tahun

Kondisi china di lihat dari satelit NASA


Di sisi lain, secara spiritual, hal ini juga menambah iman kita kepada Allah S.W.T, meyakini bahwa semua ini adalah supaya bertambah semangat kita dalam beribadah kepadanNya. 
Allah berfirman :


خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56). 


Di tengah-tengah pandemi seperti ini, ikhtiar, sabar dan tawadhu' adalah kunci utama,ikhtiar dengan cara menjaga pola hidup, pola fikir, dan pola makan.
sabar, sejenak kita bertirakat mengurangi aktivitasi-aktivitas padat kita yang biasanya kita jalani sehari-hari. 
lalu jangan lupa kita merendahkan diri di hadapanNya, bahwa kita tidak bisa apa-apa, melainkan atas rohmat dan pertolonganNya. 
Serta janganlah kita berputus asa dalam menghadapi Pandemi ini, Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.”(Q.S. Yusuf : 87)


Yakinlah bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya, begitu pula penyakit, pasti ada pula obatnya, sebagaimana dikutip dari hadist ini:
كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ اْلأَعْرَابُ، فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَتَدَاوَى؟ فَقَالَ: نَعَمْ يَا عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ. قَالُوا: مَا هُوَ؟ قَالَ: الْهَرَمُ

“Aku pernah berada di samping Rasulullah, Lalu datanglah serombongan Arab Badui. Mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, bolehkah kami berobat?' Beliau menjawab, 'Iya, wahai para hamba Allah, berobatlah. Sebab, Allah  tidaklah meletakkan sebuah penyakit melainkan meletakkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.' Mereka bertanya, 'Penyakit apa itu?' Beliau menjawab, 'Penyakit tua.'" (HR Ahmad). 

Jika sekiranya ada di sekitar kita yang terjangkit virus ini, Jangan saling menyalahkan,dan jangan saling menjatuhkan,justru itu dapat memperburuk keadaan,  semua ini adalah ujian, berikan support terhadap mereka, supaya mereka termotivasi untuk berjuang  sembuh, dan tidak berputus asa. 

Langkah kecil sebagai bentuk ikhtiar untuk mengurangi potensi penularan


Pembaca yang di rahmati Allah, kita semua berharap pandemi ini segera berlalu, marilah kita hadapi Pandemi ini dengan bijak dan optimis, lakukan apa yang di sarankan oleh ahli kesehatan, patuhi apa yang di tetapkan oleh pemerintah,
Dan saling menjaga satu sama lain. Insyaalloh, dengan ikhtiar yang kuat, dan keyakinan yang mantap, kita akan dapat melewati pandemi ini dengan selamat.

"DARIPADA TERUS MENERUS MENGUTUK KEGELAPAN,LEBIH BAIK MULAILAH NYALAKAN LILIN,PERLAHAN KEGELAPAN ITU AKAN HILANG DENGAN SENDIRINYA "

Dengan segala kekurangan, penulis mohon maaf apabila ada kesalahan baik itu penulisan ataupun kata-kata yang kurang berkenan di hati pembaca. 


وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Semoga semua umat berbahagia 


Kamis, 19 Juli 2018

Alam adalah kawan

Tatkala seorang guru sufi besar Hasan,

mendekati akhir masa hidupnya, seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah

gurumu?”

Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan

guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan,

bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. Tetapi ada

tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Pertama adalah seorang pencuri. Suatu

saat aku tersesat di gurun pasir, dan ketika aku tiba di suatu desa, karena

larut malam maka semua tempat telah tutup. Tetapi akhirnya aku menemukan

seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya

kepadanya dimana aku bisa menginap dan dia berkata “Adalah sulit untuk

mencarinya pada larut malam seperti ini, tetapi engkau bisa menginap bersamaku,

jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”

Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku

menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia akan berkata

kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah dan berdoa.”

Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab,

“Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan

berkehendak.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.

Ketika aku berkhalwat (mengasingkan

diri) selama bertahun-tahun dan di akhir waktu tidak terjadi apapun, begitu

banyak masa dimana aku begitu putus asa, begitu patah semangat, hingga akhirnya

aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini. Dan tiba-tiba aku

teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan

berkehendak, besok akan terjadi.”

Guruku yang kedua adalah seekor

anjing. Tatkala aku pergi ke sungai karena haus, seekor anjing mendekatiku dan

ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya dan ia melihat ada ajing

lainnya disana “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian

menggonggong dan berlari menjauh. Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi.

Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke airnya, dan

hilanglah bayangannya. Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang

dari Tuhan: ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan

bayangan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ketiga adalah seorang anak

kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota

dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang

menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana.

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya,

“Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.”

Kemudian aku bertanya kembali, “Ada

suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya

menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya

pada lilinnya?

Anak kecil itu tertawa, lalu

menghembuskan lilinnya, dan berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya

pergi. Kemana ia perginya? Jelaskan kepadaku!”

Egoku remuk, seluruh pengetahuanku

remuk. Pada saat itu aku menyadari kebodohanku sendiri. Sejak saat itu aku

letakkan seluruh ilmu pengetahuanku.

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki

guru. Tetapi bukan berarti bahwa aku bukanlah seorang murid, aku menerima semua

kehidupan sebagai guruku. Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar

dibandingkan dengan dirimu. Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon. Seperti

itulah aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku

memiliki jutaan guru yang aku pelajari dari berbagai sumber. Menjadi seorang

murid adalah sebuah keharusan di jalan sufi. Apa maksud dari menjadi seorang

murid? Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar. Bersedia belajar

atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Melalui seorang guru engkau akan

memulai pembelajaranmu.

Sang guru adalah sebuah kolam dimana

engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir

berenang, seluruh Samudera adalah milikmu