Kamis, 19 Juli 2018

Alam adalah kawan

Tatkala seorang guru sufi besar Hasan,

mendekati akhir masa hidupnya, seseorang bertanya kepadanya, “Hasan, siapakah

gurumu?”

Dia menjawab, “Aku memiliki ribuan

guru. Menyebut nama mereka satu-persatu akan memakan waktu berbulan-bulan,

bertahun-tahun dan sudah tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya. Tetapi ada

tiga orang guru yang akan aku ceritakan kepadamu.

Pertama adalah seorang pencuri. Suatu

saat aku tersesat di gurun pasir, dan ketika aku tiba di suatu desa, karena

larut malam maka semua tempat telah tutup. Tetapi akhirnya aku menemukan

seorang pemuda yang sedang melubangi dinding pada sebuah rumah. Aku bertanya

kepadanya dimana aku bisa menginap dan dia berkata “Adalah sulit untuk

mencarinya pada larut malam seperti ini, tetapi engkau bisa menginap bersamaku,

jika engkau bisa menginap bersama seorang pencuri.”

Sungguh menakjubkan pemuda ini. Aku

menetap bersamanya selama satu bulan! Dan setiap malam ia akan berkata

kepadaku, “Sekarang aku akan pergi bekerja. Engkau beristirahatlah dan berdoa.”

Ketika dia telah kembali aku bertanya “apakah engkau mendapatkan sesuatu?” dia menjawab,

“Tidak malam ini. Tetapi besok aku akan mencobanya kembali, jika Tuhan

berkehendak.” Dia tidak pernah patah semangat, dia selalu bahagia.

Ketika aku berkhalwat (mengasingkan

diri) selama bertahun-tahun dan di akhir waktu tidak terjadi apapun, begitu

banyak masa dimana aku begitu putus asa, begitu patah semangat, hingga akhirnya

aku berniat untuk menghentikan semua omong kosong ini. Dan tiba-tiba aku

teringat akan si pencuri yang selalu berkata pada malam hari. “Jika Tuhan

berkehendak, besok akan terjadi.”

Guruku yang kedua adalah seekor

anjing. Tatkala aku pergi ke sungai karena haus, seekor anjing mendekatiku dan

ia juga kehausan. Pada saat ia melihat ke airnya dan ia melihat ada ajing

lainnya disana “bayangannya sendiri”, dan ia pun ketakutan. Anjing itu kemudian

menggonggong dan berlari menjauh. Tetapi karena begitu haus ia kembali lagi.

Akhirnya, terlepas dari rasa takutnya, ia langsung melompat ke airnya, dan

hilanglah bayangannya. Dan pada saat itulah aku menyadari sebuah pesan datang

dari Tuhan: ketakutanmu hanyalah bayangan, ceburkan dirimu ke dalamnya dan

bayangan rasa takutmu akan hilang.

Guruku yang ketiga adalah seorang anak

kecil. Tatkala aku memasuki sebuah kota

dan aku melihat seorang anak kecil membawa sebatang liling yang menyala. Dia sedang

menuju mesjid untuk meletakkan lilinnya disana.

“Sekedar bercanda”, kataku kepadanya,

“Apakah engkau sendiri yang menyalakan lilinnya?” Dia menjawab, “Ya tuan.”

Kemudian aku bertanya kembali, “Ada

suatu waktu dimana lilinnya belum menyala, lalu ada suatu waktu dimana lilinnya

menyala. Bisakah engkau tunjukkan kepadaku darimana datangnya sumber cahaya

pada lilinnya?

Anak kecil itu tertawa, lalu

menghembuskan lilinnya, dan berkata, “Sekarang tuan telah melihat cahayanya

pergi. Kemana ia perginya? Jelaskan kepadaku!”

Egoku remuk, seluruh pengetahuanku

remuk. Pada saat itu aku menyadari kebodohanku sendiri. Sejak saat itu aku

letakkan seluruh ilmu pengetahuanku.

Adalah benar bahwa aku tidak memiliki

guru. Tetapi bukan berarti bahwa aku bukanlah seorang murid, aku menerima semua

kehidupan sebagai guruku. Pembelajaranku sebagai seorang murid jauh lebih besar

dibandingkan dengan dirimu. Aku mempercayai awan-awan, pohon-pohon. Seperti

itulah aku belajar dari kehidupan. Aku tidak memiliki seorang guru karena aku

memiliki jutaan guru yang aku pelajari dari berbagai sumber. Menjadi seorang

murid adalah sebuah keharusan di jalan sufi. Apa maksud dari menjadi seorang

murid? Maksud dari menjadi seorang murid adalah untuk belajar. Bersedia belajar

atas apa yang diajarkan oleh kehidupan. Melalui seorang guru engkau akan

memulai pembelajaranmu.

Sang guru adalah sebuah kolam dimana

engkau bisa belajar bagaimana untuk berenang. Dan tatkala engkau telah mahir

berenang, seluruh Samudera adalah milikmu